Mengalami Pertumbuhan Manusia Batiniah

Mengalami Pertumbuhan Manusia Batiniah
Ayat Pokok: 2 Korintus 4:16

Oleh: Pdt. Lodewijk Saerang

Sebab itu kami tidak tawar hati,

tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot,

namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.

II Korintus 4:16

            Dari ayat ini kita diajak untuk mengerti bahwa kehidupan manusia terbagi atas dua hal yaitu manusia lahiriah dan manusia batiniah. Kita terkadang cenderung untuk menaruh perhatian terhadap manusia lahiriah yang akan mengalami kemerosotan ketimbang manusia batiniah yang kekal dan akan harus terus-menerus alami pertumbuhan serta pembaharuan dari hari ke hari menuju kesempurnaan ke arah Kristus.

 

Bagaimana caranya kita alami pembaharuan atau pertumbuhan batiniah dari hari ke hari?

·                     Tidak tawar hati (2 Korintus 4:16a)

Maksud dari Rasul Paulus dalam ayat ini adalah jika kita tidak tawar hati maka manusia batiniah akan bertumbuh dari hari ke hari. Sedangkan tawar hati akan menghambat pertumbuhan atau pembaharuan manusia batiniah. Oleh sebab itu, jangan fokus hanya kepada hal yang lahiriah saja seperti makan, minum dan sebagainya, tanpa memperhatikan yang batiniah sehingga tidak terjadi pertumbuhan secara batiniah seperti jemaat Korintus. Rasul Paulus berkata kepada jemaat Korintus: “aku tidak bisa berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani tetapi hanya dengan manusia duniawi..” (1 Korintus 3:1). Ini artinya ada dua manusia yaitu manusia roh dan manusia daging. Tuhan menghendaki agar yang dibaharui adalah manusia rohani. Kunci mengalami pembaharuan roh adalah tidak tawar hati.

Dalam New King James Version (NKJV) kata tidak tawar hati ini memakai kata “Do not Lost Heart.” Artinya tidak hilang hati. Saudara harus tahu inilah kuncinya mengalami pembaharuan batiniah yaitu kita harus menjaga hati kita untuk tidak mengalami yang namanya “lost heart (hilang hati)”.

Dalam Yohanes 10:10 firman Allah berkata: “pencuri datang untuk mencuri, membunuh dan membinasakan.” Kita tentu tahu yang dimaksud pencuri adalah iblis. Maksud kedatangan iblis hanya untuk mencuri, membunuh dan jika mungkin membinasakan kita. Apakah yang Iblis mau curi dari hidup kita? Harta kita? Tentu tidak! Iblis tidak tertarik pada harta kita, sebab ia merasa dunia ini adalah miliknya. Yang menarik bagi iblis untuk dicuri adalah hati kita, sebab sesudah iblis berhasil mencuri hati kita maka kita sudah tidak bisa lagi mengalami pertumbuhan manusia batiniah. Berhati-hatilah karena iblis berusaha dengan berbagai macam cara untuk mencuri hati kita.

Jemaat Efesus (Wahyu 2:1-7)

Jemaat Efesus adalah jemaat yang berkualitas. Mereka menguji setiap pengajar yang datang, tekun dan tidak mengenal lelah dalam mengiring Tuhan. Mereka juga sabar dalam penderitaan, bahkan dalam sejarah perkembangan gereja kota Efesus yang jumlah penduduknya mencapai 200.000 orang pada waktu itu, hampir keseluruhannya sudah menjadi kristen sehingga menjadikan Efesus sebagai pusat kekristenan. Tetapi Tuhan mencela jemaat Efesus, karena meninggalkan kasih yang semula. Kata “Mencela”, bahasa inggris menggunakan kata “I againts you” artinya Tuhan menantang mereka. Jadi, bila kita kehilangan kasih seperti yang dialami oleh jemaat Efesus kita menjadi kehilangan hati.

Kehilangan hati dapat terjadi bila ada kebencian, dendam terhadap orang lain atau rekan pelayan. Tetapi kehilangan hati juga terjadi saat pikiran kita tidak terfokus pada firman yang diberitakan. Ketika kita kehilangan hati, kita bukan hanya tidak mengalami pertumbuhan manusia batiniah melainkan kita juga akan berhadapan dengan Tuhan.

Tuhan menegur jemaat Efesus dengan keras, nampak dari perkataan Tuhan kepada jemaat Efesus, yaitu “perhatikan betapa dalamnya engkau jatuh…”. Pertobatanlah cara untuk kembali kepada cinta yang semula, jika tidak Allah akan mengambil kaki dian dari kehidupan yaitu, Roh Kudus. Pastikan dalam hati kita tidak ada lagi kebencian dan kekecewaan yang membuat kita hilang hati tapi sebaliknya biarlah hati kita sepenuhnya menjadi milik Tuhan. Inilah kerinduan Tuhan bagi setiap kita, yaitu semakin dekat kepadaNya, mempercayai dan mengasihi Dia dengan segenap hati kita. Semuanya ini hanya mungkin terjadi kalau kita tidak hilang hati.

Jangan hanya karena kita dikecewakan atau dirugikan lantas membuat kita hilang hati. Iman kita tidak boleh goyah sedikitpun dan kasih kita tidak boleh berkurang atau hilang. Kita dikaruniai bukan hanya untuk berkat-berkat yang luar biasa tetapi juga untuk mengalami aniaya (kesukaran). Artinya hidup boleh berubah, kadang senang kadang susah tetapi kita tidak boleh hilang hati.

Dalam Lukas pasal 15 sering disebut pasal yang hilang karena kisah-kisah yang ada dalam pasal tersebut menceritakan hal-hal yang hilang seperti koin yang hilang, domba yang hilang maupun anak yang hilang.

Kita mau melihat dari kisah anak yang hilang yang tentu kita sudah pernah mendengar atau membaca cerita ini. Dalam kisah ini menceritakan tentang seorang bapak yang memiliki dua orang anak. Suatu ketika anaknya yang bungsu meminta warisan yang menjadi bagiannya, kemudian pergi jauh meninggalkan rumah bapanya. Akibat dia meninggalkan rumah bapa, dia betul-betul menjadi seorang anak yang terhilang hatinya. Hal yang paling mengerikan yang dapat terjadi jika kita meninggalkan rumah Bapa adalah kita akan menjadi pribadi yang hilang hati. Orang yang hilang hati tidak dapat membedakan lagi antara damai sejahtera sorga dan damai sejahtera dunia. Anak bungsu ini berpikir bahwa damai sejahtera yang sebenarnya adalah menghabiskan uang dengan berpesta. Singkat cerita yang terjadi setelah semua uangnya habis anak bungsu berujung di kandang babi (menjadi penjaga babi) suatu tempat yang sangat berbeda dengan rumah bapanya yang seperti istana. Keadaan anak bungsu ini begitu buruk bahkan oleh tuannya dia dianggap tidak lebih berharga dari seekor babi.

Saya ingin gambarkan bahwa kehidupan orang yang meninggalkan kasih karunia Tuhan akan mengalami situasi yang buruk seperti anak bungsu tersebut, rendah dan tidak ada harganya. Untunglah cerita itu cerita tidak selesai sampai disitu. Dalam keterpurukannya itu dia tiba-tiba ingat akan rumah bapanya dan kemudian ia mengambil keputusan untuk kembali ke rumah bapanya. Dengan jalan yang goyah dia berjalan menuju ke rumah bapanya. Ini merupakan hal yang benar, karena lebih baik dengan langkah yang goyah kita melangkah ke arah yang tepat yaitu rumah bapa daripada dengan langkah tegap menjauhi rumah Bapa.

Saat anak bungsu ini pulang maka bapa berlari dan memeluk anak ini dan kemudian memulihkan keadaannya serta mengadakan pesta yang meriah untuk merayakan kepulangannya. Bagaimana respon dari anak sulung? Dia tidak menunjukkan kebahagiaan atas kepulangan adiknya justru sebaliknya anak sulung ini merasa sakit hati, kecewa bahkan marah besar! Dari sikapnya ini kita dapat melihat bahwa sesungguhnya si sulunglah yang terhilang. Dapat dikatakan dia telah kehilangan hati akibat peristiwa itu. Begitu pula jika di dalam gereja kita menemukan jemaat yang suka marah-marah dan tidak peduli terhadap  jiwa-jiwa yang hilang maka sesungguhnya dia adalah jemaat yang hilang hati. Jikalau kita dalam hidup ini sudah tidak merasakan lagi keterbebanan terhadap jiwa yang terhilang maka kita adalah pribadi-pribadi yang telah hilang hati. Kita seharusnya tidak boleh berhenti mencari jiwa yang terhilang sebab itulah yang diinginkan Tuhan.

Apa akibatnya jika membiarkan diri kita hilang hati? Kekuatan kita dalam menjalani hidup akan hilang bahkan kalaupun ada itu hanyalah kekuatan yang kecil (Amsal 24:10). Dalam terjemahan bahasa inggris kekuatan kita akan menjadi terbatas, namun sebaliknya jika memandang kepada Tuhan dan tidak tawar hati atau tidak hilang hati maka kekuatan kita menjadi tidak terbatas yang akan bekerja dalam hidup kita. Contohnya: Kisah Sadrakh Mesakh, Abednego yang menolak menyembah patung Nebukadnezar dan tetap memilih untuk menyembah Tuhan sekalipun harus masuk dalam dapur api. Dengan tegas dan berani mereka menentang perintah raja dan berkata: “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu dan dari dalam tanganmu, ya raja;  tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Sadrak, Mesakh dan Abednego percaya Tuhan adalah sumber pertolongan tetapi seandainya Tuhan tidak menolong pun mereka tetap akan mengasihi Tuhan. Mereka tidak menghindar tapi justru memilih masuk kedalam perapian yang bernyala-nyala tersebut, ini menunjukan bahwa orang yang tidak kehilangan hati akan memiliki iman yang terus bertambah yang membuat mereka tidak lari melainkan maju dengan berani menghadapi masalah.

Bagi orang yang tidak kehilangan hati menghadapi masalah yang besar tidaklah menakutkan karena mereka percaya justru Tuhan akan hadir di tengah masalah itu untuk menunjukan kuasa-Nya yang besar dan luar biasa bagi gereja-Nya. Firman Tuhan mencatat ketika Tuhan ada bersama-sama mereka dalam perapian yang menyala-nyala itu maka tidak ada sehelai rambutpun yang terbakar, inilah yang dimaksudkan kekuatan yang tidak terbatas! Ini hanya dapat terjadi ketika kita tidak tawar hati dan tetap menaruh kepercayaan penuh kepada Tuhan sehingga manusia batiniah kita bekerja dengan maksimal dan kuasa Allah yang luar biasa itu dapat kita alami.

Ketika kita tidak hilang hati maka sesungguhnya tidak ada masalah yang terlalu berat yang tidak dapat diselesaikan oleh Tuhan, walaupun kita sebagai manusia terbatas tapi ketika kita tetap percaya dan mengerjakan apa yang Tuhan inginkan kita akan mengalami kekuatan yang tak terbatas itu.

Masalah kita terkadang bukanlah yang lahiriah melainkan batiniah, kalau batiniah kita bertumbuh menuju kesempurnaan percayalah masalah yang besar sekalipun bukanlah sebuah ancaman bagi kita.

Jadilah seperti Daud yang hidup melekat dengan Tuhan, dengan kata lain dia terus-menerus mengalami pembaharuan hati sampai hatinya menjadi semakin kuat sehingga tidaklah heran ketika dia berhadapan dengan raksasa Goliat dia tidak merasa takut dan gentar sedikitpun.

Kalau hati kita tetap melekat dengan Tuhan dan tidak hilang hati maka batiniah kita akan terus dibaharui menuju kesempurnaan sehingga hidup kita akan penuh dengan keajaiban. Karena itu jangan tawar hati, jangan hilang hati, pandanglah Tuhan dan tetap mengasihiNya. Percaya penuh kepadaNya karena bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Haleluya!! (DK)

Share